Gedung PRIMKOPTI Kabupaten Bogor

Gedung PRIMKOPTI Kabupaten Bogor yang tertata rapi dengan ruang kerja, pertemuan dan showroom di dalamnya

Melihat-lihat steam boiler

Peserta study banding tanhu tempe PRIMKOPTI Kabupaten Bogor tampak melihat-lihat sistem kerja steam boiler di kompleks pabrik tahu Lembang Bandung

Drum Stainless Sehatkan Tempe

Dandang atau drum stainless yang sebagian telah terkirim di kantor Primkopti Jakarta Selatan siap didistribusikan kepada produsen tahu tempe anggota untuk mengganti drum oli yang slama ini digunakan.

Tahang tahu stainless steel

Tahang tahu stainless steel dipastikan mampu memcetak produk tahu yang higienis dan dipergunakan secara lebih efisien

Perjalanan study banding

Diikuti oleh sedikitnya 30 orang, study banding tahu tempe di Bandung diharapkan dapat memberi gambaran dan motivasi bagi para produsen asal Bogor untuk dapat meningkatkan kualitas produksinya.

Tahu tempe higienis siap jual

Produksi tahu tempe hasil project percontohan siap diedarkan kapada calon pembeli. Tahu tempe ini tentu lebih higienis dan sehat karena diproses dengan peralatan yang lebih bersih dan tingkat efisiensi yang memadai

Proses produksi efisien

Dengan peralatan stainless, tahu bukan saja menjadi lebih bersih dalam proses pengolahannya tapi juga mampu menambah daya tahan tahu tanpa penggunaan asupan-asupan yang berbahaya.

Pabrik tahu di Lembang Bandung

Dalam acara study banding, tampak bahwa pengolahan dengan pola yang sehat, selain dapat meningkatkan mutu produksi, juga mampu menekan dampak pencemaran yang dapat membahayakan baik karyawan maupun lingkungan sekitar

Tuesday, 25 November 2014

KOPTI KAB BOGOR TELAH MENDISTRIBUSIKAN PERALATAN TEMPE TAHU KE 15 PROPINSI

Sampai akhir Nopember tahun 2014 Kopti Kab. Bogor telah mendistribusikan peralatan tempe tahu ke 15 Propinsi di Indonesia hal ini terjadi di kerenakan setiap kabupaten kota di 15 propinsi tersebut ingin mengadopsi peralatan produksi yang telah di miliki oleh Rumah Tempe Indonesia yang merupakan pusat percontohan produksi tempe yang telah terstandarisasi HACCP dan telah memiliki Merk Dagang(MD) dari BPOM RI.
Hal tersebut menjadi sesuatu yang membanggakan dan sekaligus berkah yang luar biasa bagi KOPTI Kabupaten Bogor yang merupakan koperasi tempat bernaungnya perajin tempe tahu di Kabupaten Bogor 

Selain menjadi Koperasi terdepan dalam melakukan inovasi di bidang peralatan produksi khususnya tempe tahu juga menjadi salah satu andalan usaha yang menghasilkan keuntungan yang memadai.

Kedepan Kopti Kab. Bogor akan terus berinovasi dalam bidang pengadaan alat produksi tempe tahu dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Wednesday, 30 April 2014

Dubes AS Mr Robert O Blake dan Walikota Bogor Dr.Bima Arya Mencicipi berbagai olahan tempe di RTI Bogor

Pak Dubes Amerika Serikat Robert O Blake ternyata sangat menyukai tempe saya suka tempe bacem,tempe goreng dan tempe Mendoan begitu beliau berujar ketika didaulat memberikan pidato dalam acara Peresmian Rumah Tempe Indonesia bersama Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, dan dia merasa terkejut ketika dia tahu bahwa ternyata tempe bisa dijadikan bahan utama dalam berbagai jenis kuliner seperti burger tempe, tiramisu tempe, ice cream tempe, brownis tempe dan lain-lain dan dia sangat menyukai kuliner tempe tersebut "kalo tahu begini saya akan makan tempe tiap hari" celotehnya lagi.
Menurut nya Indonesia adalah pengimpor utama kedelai asal amerika lebih dari 2.5 Juta Ton kedelai asal amerika di impor ke Indonesia dan penggunaan kedelai hampir 90 % di sektor produksi tempe dan tahu. Jadi beliau sangat mendukung aktifitas Rumah Tempe Indonesia sebagai inovator produksi tempe higienis dan sehat, dan diharapkan menjadi pusat percontohan bagi produsen tempe di seluruh Indonesia.

Friday, 25 April 2014

Kunjungan Duta Besar Amerika Ke RTI

Hari selasa tanggal 29 April 2014 Rumah tempe Indonesia di kunjungi tamu istimewa yaitu Walikota Bogor Dr. Bima Arya dan Duta Besar Amerika Mr. Robert O Blake. Hal ini tentu merupakan suatu bentuk pengakuan dan apresiasi dari pemerintah Kota Bogor dan Amerika akan Eksistensi Rumah Tempe Indonesia (RTI) yang merupakan satu-satunya rumah produksi tempe yang berstandar internasional, yang mengaplikasikan produksi tempe secara higienis dan ramah lingkungan dan merupakan rumah produksi percontohan bagi pengrajin tempe se Indonesia.

Dalam acara tersebut juga di tampilkan olahan tempe yang dilakukan oleh 5 perusahaan catering terkemuka dan Sekolah favorit yang ada di kota Bogor dan Jakarta, mereka akan menampilkan jenis masakan yang berbahan dasar tempe seperti pizza tempe, tempe tiramisu, es krim tempe dll. Selama ini tempe dikenal sebagai salah satu jenis makanan yang hanya dapat di buat menjadi gorengan atau berbagai jenis olahan tradisional, namun melalui kegiatan eksebisi ini membuktikan bahwa hal tersebut dapat di patahkan .
Kunjungan Walikota Bogor dan Dubes AS ke RTI Bogor
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi ajang promosi produk tempe dan produk olahan tempe sehingga dapat diminati dan dicintai oleh masyarakat luas dan tentunya mengangkat harkat tempe menjadi produk makanan yang asli indonesia bertaraf internasional.

Thursday, 22 August 2013

Harga kedelai impor naik! pengrajin tempe tahu menjerit! ibu rumah tangga semakin pusing

Belum lagi harga daging, cabai , bawang, turun sekarang harga kedelai mulai membumbung dari awal agustus di harga Rp 7.200-7.500 sekarang menjadi Rp 8.800-9.500. Sekali lagi anak bangsa ini harus menderita karena pemerintah gagal mengendalikan harga pangan. Kebijakan ekonomi liberal yang dijalankan pada saat ini ternyata berkali-kali membuat pemerintah "dikadali" oleh para pemilik modal. Praktek kartel yang sudah menjadi rahasia umum pada daging, kedelai dan bahan pangan lainya yang merupakan dampak pada kebijakan ekonomi liberal yang menyebabkan lemahnya posisi pemerintah dan sudah seharusnya di kaji kembali. Dampak kenaikan kedelai pada saat ini membuat para pengrajin berhenti produksi atau mengecilkan potongan tahu tempe mereka. Disamping itu omzet mereka juga menurun drastis. Jika pada saat ini ibu-ibu rumah tangga mulai mengurangi konsumsi tahu tempe karena harga atau potongannya yang semakin menciut, kemana lagi anak bangsa ini mendapatkan sumber protein mereka, Sudah jelas daging sudah tidak terbeli karena harga nya masih Rp 90.000/kg, ayam Rp 35.000/kg, telur Rp 20.000/kg. Haruskah mereka mengkonsumsi belalang seperti jaman penjajahan dahulu? Benar-benar membuat para ibu rumah tangga pusing tujuh keliling!
Oleh karena itu Kopti sebagai wadah pengrajin tahu tempe meminta kepada pemerintah untuk segera merealisasikan PP no 31 tahun 2013 dimana tata niaga kedelai harus diintervensi oleh pemerintah dalam hal menjaga kestabilan harga dan mengatur pembelian kedelai lokal dari petani. Sebuah ironi tidak lama setelah perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke 68 kita kembali di hadapkan bahwa bangsa ini 
masih terjajah oleh kepentingan ekonomi segelintir orang!

Wednesday, 14 August 2013

Bubur tempe sebagai makanan pendamping asi

Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa tempe dapat diolah menjadi berbagai produk turunan, salah satunya adalah bubur instant sebagai pendamping ASI bagi anak batita. Kalbe farma yang merupakan salah satu produsen produk kesehatan terbesar di Indonesia beberapa saat yang lalu telah melakukan soft launching produk Entrocare. Produk ini merupakan produk yang dikembangkan dari tempe yang di produksi di Rumah Tempe Indonesia. Karena terbuat dari tempe tentu manfaat tempe yang sudah dikenal sebagai sumber protein yang sangat bagus, sumber vitamin B dan beberapa komponen khas tempe seperti Isoflavon juga terkandung di dalam produk Entrocare tersebut. Dengan adanya produk tersebut maka industri tempe di Indonesia sudah mulai dilirik oleh perusahaan industri pangan sebagai mitra untuk memenuhi kebutuhan bahan baku mereka. Manfaat bubur tempe selain nutrisi yang baik juga dapat mempercepat kesembuhan pada kasus diare pada anak, seperti tulisan berikut :

Bubur Tempe Pemampet Diare Anak : 
Berdasarkan penelitian, Anak yang mendapat bahan makanan campuran tempe-terigu berhenti diare setelah 2,39 ± 0,09 hari (rerata), lebih cepat bila dibandingkan dengan anak yang mendapat bahan makanan campuran beras-susu (rata-rata 2,94 ± 0,33 hari). Sebuah studi uji klinis randomized controlled double-blind yang dilakukan oleh Soenarto et al (1997) menunjukkan bahwa formula yang berbahan dasar tempe dapat mempersingkat durasi diare akut serta mempercepat pertambahan berat badan setelah menderita satu episode diare akut.

sumber :http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fdokteranakku.net%2Farticles%2F2012%2F07%2Fbubur-tempe-pemampet-diareanak.html&h=8AQHNnxFB

Produk Entrocare pada saat ini dapat di peroleh dengan menghubungi dokter anda 

Wednesday, 10 July 2013

Ketel uap untuk produksi tahu tempe

Industri tahu dan tempe merupakan industri kecil yang membutuhkan energi yang cukup besar, terutama pada proses pemasakan dan perebusan. Pada saat ini satu industri kecil tahu dengan kapasitas 300kg kedelai /hari rata-rata membutuhkan 2 meter kubik/atau 1 mobil pick-up kayu bakar seharga Rp 250.000-350.000. Bisa dibayangkan betapa besarnya kebutuhan bahan bakar tersebut, ada beberapa hal yang menjadi penyebab borosnya pemakaian bahan bakar di industri tahu tempe yaitu:
1. Penggunaan teknologi yang tidak tepat, pada saat ini rata-rata pengrajin tahu tempe membuat sendiri ketel uap yang mereka gunakan dari bahan drum bekas atau baja dengan desain seadaanya tanpa mempertimbangkan faktor efisiensi dan keamanan.
2. Pemilihan bahan bakar yang salah, karena desain alat yang tidak tepat,pada akhirnya pengrajin harus menggunakan bahan bakar yang kurang pas seperti kayu bakar, jenis bahan bakar ini akan menghasilkan polusi yang tinggi yang akan berdampak pada lingkungan. Terlebih untuk wilayah JABODETABEK, penggunaan kayu bakar sudah seringkali menjadi akar masalah antara warga dan pengrajin tahu tempe.

Oleh karena itu KOPTI KAB BOGOR menyediakan Ketel Uap GT yang memiliki berbagai keunggulan antara lain :
1. Efisiensi bahan bakar yang tinggi, sehingga lebih hemat bahan bakar 50%
2. Hemat waktu
3. Aman
4. Umur ekonomis yang panjang
5. Dapat menggunakan bahan bakar apapun.

Untuk pemesanan ketel uap ini dapat menghubungi

Kopti Kab Bogor
CP : Rikamto0815 11245794

Wednesday, 3 July 2013

Tempe Organik tersedia di RTI

Mungkin tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa pada saat ini telah tersedia tempe organik di pasaran, salah satunya di produksi oleh Rumah Tempe Indonesia di Bogor. Ketersediaan bahan baku kedelai organik dan segmen pasar yang kecil membuat banyak produsen tidak mau melayani konsumen organik. padahal pada saat ini kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat dengan mengurangi mengkonsumsi makanan yang berisiko mulai tumbuh di masyarakat. Bukan hanya sekadar gaya-gayaan namun konsumen produk organik menyakini bahwa pangan yang baik harus memberikan resiko yang terkecil bagi konsumennya. Dengan harga yang premium pada saat ini RTI sudah memasarkan 50-70 bungkus tempe organik/minggu dan diperkirakan kedepan permintaan tempe organik akan semakin meningkat. Jika anda merupakan konsumen yang mencari tempe organik dapat mengunjungi Rumah Tempe Indonesia di Jl Raya Cilendek No 27 Bogor. Atau menghubungi Bpk Sukhaeri di HP : 0813 17435000

Tuesday, 11 June 2013

6 Juni sebagai Hari Tempe Internasional

Besok para penggiat Tempe akan melakukan deklarasi Hari Tempe Internasional di gedung SMESCO Jakarta. Tanggal yang dipilih sebagi Hari Tempe Internasional adalah 6 Juni dimana pada hari itu merupakan hari diresmikannya Rumah Tempe Indonesia yang menjadi salah satu Milestone perjalanan tempe di Indonesia. Diharapkan dengan dideklarasikannya Hari Tempe Internasional tersebut akan semakin mengukuhkan bahwa tempe merupakan warisan budaya Indonesia di samping itu diharapkan pula Tempe dapat menjadi lebih dikenal luas secara internasional dan mengangkat martabat tempe sabagai budaya kuliner dan pengrajin tempe dapat semakin sejahtera


Friday, 3 May 2013

Rhenald Kasali Berkunjung ke Rumah Tempe Indonesia

Salah satu akademisi yang juga sekaligus sebagai motivator perubahan, Prof. Rhenald Kasali Ph.D memuji apa yang telah dilakukan oleh Rumah Tempe Indonesia. Dengan merubah standard produksi menjadi lebih tinggi maka di harapkan RTI dapat menjadi lokomotif perubahan di sektor tempe baik dari sisi konsumen maupun produsen. Hal ini disampaikan ketika mengunjungi Rumah Tempe Indonesia pada hari kamis (2 May 2013). Pada kesempatan tersebut beliau juga memberikan pencerahan pada para pengurus Kopti dan Gakopti di acara Workshop kepemimpinan dalam menerapkan industrin tempe tahu yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Untuk kedepannya diharapkan para pengurus KOPTI mampu mendorong perubahan di wilayak kerja mereka masing-masing.

Meja Kerja


Sebagai salah satu komponen/fasilitas yang diperlukan untuk mendukung proses produksi maka meja kerja yang terbuat dari stainless steel ini sebaiknya dimiliki oleh para produsen tempe. Disamping lebih mudah dibersihkan, umur ekonomis yang panjang meja ini juga berguna untuk menyimpan material produksi karena memiliki laci penyimpanan yang luas.

Spesifikasi

Bahan             : SS 201, 1.5 mm
Tinggi             : 80 cm
Lebar              : 60 cm
Panjang           : 150 cm
Rangka           : Pipa SS 3”
Laci                : 3 pcs


Dandang perebus kedelai untuk produksi tempe



Sebagai pengganti drum besi bekas oli atau minyak yang selama ini digunakan oleh para pengrajin tempe tradisional maka penggunaan dandang rebus yang berbahan stainless steel ini mutlak digunakan agar proses produksi menjadi lebih higienis dan menghindari produk tempe yang dihasilkan dari kontaminasi logam berat yang berasal dari karat pada drum bekas.

Spesifikasi

Tinggi           : 80 cm
Plat Body      : SS 201, 1mm
Plat Bawah    : SS 201, 1.5 mm
Plat Tutup     : SS 201, 0.8 mm
Volume         : 300 ltr
Kapasitas      : 80 kg/masakan

Mesin pemecah kedelai untuk produksi tempe



Untuk mempermudah pekerjaan para pengrajin, maka Kopti Kab Bogor memproduksi mesin pemecah kedelai yang dapat mengolah 400 kg kedelai/jam. Mesin ini sangat ekonomis karena hanya membutuhkan daya 250 watt dengan kapasitas cukup memadai

Spesifikasi

  »  MOTOR LISTRIK    :  ¼  PK
  »  DAYA                       :  250 Watt
  »  GERINDA                :  6 Inci
  »  PLAT BODY            :  Stainless  304
      Tebal                         :  Pipa Spiral 3 “-1,5 mm 304                                  
                                           Hopper 1 mm 304
                                           Silinder 1,5 mm 304       
  »  FRAME/RANGKA  :  Holo Stainless 40 x 40 tebal 1mm   
  »  KAPASITAS            : 500 Kg/Jam
  »  V BELT                    :  A.45
  »  AS                             : SS.304ø ¼” 450 Cm 
  »  HANDLE                  : 15 A  1 Phase
  »  POLI ALUMNIUM    :  MTR.3” A1øA5: 14 mm                    :  MTR.6” A1øA5: 19 mm
  »  Pillow Block              :  UCP 207 FBJ  



Thursday, 21 March 2013

Pelatihan Produksi Tempe Higienis angkatan ke 3 " Tempe goes to Thailand"

Kelas pelatihan produksi tempe higienis mulai banyak diminati oleh masyarakat, pesertanya tidak saja datang dari kota Bogor namun dari berbagai kota di Indonesia bahkan dari Bangkok Thailand !. Pelatihan angkatan ke 3 di Rumah Tempe Indonesia dilaksanakan pada hari kamis tgl 21 Maret 2013, kelas ini merupakan kelas khusus yang dibuka untuk memenuhi kebutuhan peserta yang akan membuka usaha produksi tempe higienis di Bangkok Thailand. Farida Indrarini King merupakan warga negara indonesia yang semenjak tahun 1970 an sudah berdomisili dan bekerja di Bangkok, dan saat ini beliau akan memulai produksi tempe di negara gajah putih tersebut. Menurut beliau pasar tempe di negara thailand sangat terbuka karena mayoritas mayarakat yang beragama Budha dan banyak yang menganut paham vegetarian. Disamping itu nutrisi yang terkandung didalam tempe sangat berpotensi untuk menarik konsumen yang peduli dengan isu kesehatan dan manfaat yang diperoleh dari produk tempe. Berikut daftar nama peserta yang mengikuti kelas produksi tempe higienis angkatan ke 3 :
1. Farida Indrarini King
2. Rochmini Mardikanto
3. Amin Suroso
4. Norman Tri Aprianto

Semoga para peserta mampu menjadi pengusaha sekaligus motor perubahan di sektor industri tempe dan mampu mempromosikan tempe di level nasional dan internasional

Untuk mengikuti kelas produksi tempe higienis dapat menghubungi 

Penanggung jawab kelas kewirausahaan
Rumah Tempe Indonesia
M.Ridha
Hp : 0812 8074 2701

Wednesday, 13 March 2013

Tak Setetespun Limbah Cair RTI di Buang Ke Kali

Industri tempe merupakan salah satu penghasil limbah cair yang dapat menurunkan kualitas lingkungan bila tidak dikelola dengan bijak, dapat di bayangkan dari setiap 1 kg kedelai yang diolah akan menghasilkan 10-15 ltr limbah cair. Rumah Tempe Indonesia sebagai satu-satunya percontohan produksi tempe higienis dan ramah lingkungan di Indonesia menerapkan sistem pengolahan limbah cair menggunakan reaktor biogas. Keuntungan dari penerapan teknologi ini adalah mampu menurunkan COD dan BOD sampai dengan 80% disamping itu teknologi ini minim biaya perawatan dan menghasilkan gas metan sebagai sumber bahan bakar.Sudah seharusnya teknologi produksi yang ramah lingkungan diadopsi oleh pengrajin agar kelestarian lingkungan dapat terjaga dan keberlangsungan usaha tidak mengganggu lingkungan . Teknologi biogas ini juga dapat digunakan secara komunal sehingga nilai investasinya bisa lebih diperkecil. Di RTI limbah cair yang telah di proses di dalam reaktor biogas kembali di saring di bak filtrasi menggunakan ijuk,arang aktif, zeolit, kerikil dan pasir setelah proses pemurnian tersebut limbah cair dialirkan ke sumur resapan, sehingga tidak setetespun limbah cair dari RTI dibuang ke kali.

Tuesday, 12 March 2013

Aneka Olahan Tempe Kini Tersedia di RTI

Pengunjung Rumah Tempe Indonesia pada saat ini dapat menikmati aneka olahan makanan berbahan baku tempe seperti nuget, kroket dan siomay tempe. Hal ini membuktikan kepada masyarakat bahwa tempe bisa diolah menjadi berbagai menu yang enak, menarik dan memiliki nilai ekonomis.  Untuk kedepan Rumah Tempe Indonesia juga akan mengembangkan berbagai menu lainnya yang tak kalah menarik sehingga memperbanyak ragam menu yang dapat dinikmati oleh pengunjung Rumah Tempe Indonesia. Sekali lagi hal ini membuktikan bahwa tempe bisa diolah menjadi beragam menu yang menarik sehingga menjadi kegemaran setiap lapisan masyarakat, dan kita tidak lagi malu menjadi bangsa tempe!

Sunday, 10 March 2013

Mereka Akan Menjadi Motor Perubahan

Pelatihan produksi tempe higienis angkatan ke 2 telah berlangsung pada tanggal 9 maret 2013. Pelatihan ini diikuti oleh 4 peserta yang berasal Cirebon, Karawang dan Depok. Diharapkan kedepan peserta tersebut mampu membuka usaha tempe yang diproduksi secara higienis dan menjadi motor perubahan di daerah mereka masing-masing. Antusiasme peserta untuk mengikuti pelatihan tersebut terlihat sangat tinggi, mereka mengikuti proses produksi tahap demi tahap dan menggali tips-tips dalam proses produksi tempe. Nama peserta yang mengikuti pelatihan produksi tempe angkatan ke 2 tersebut :
1. Ernawaty
2. Sri Harsa Handayani
3. Tjiptono
4. Agus Rochmat

Semoga kedepan para peserta mampu menjadi salah satu aktor yang mendorong perubahan di sektor tempe sehingga kita tidak lagi malu menjadi bangsa tempe !

Griya Tempe Purbalingga

Griya Tempe Purbalingga (GTP), Puwokerto-Indonesia adalah salah satu binaan dari Rumah Tempe Indonesia (RTI), Bogor. Dipertengahan tahun 2012, kopti Bogor “me-launching” RTI menjadi wadah bagi para pengrajin tempe diwilayah Bogor. Namun berjalannya waktu, dirasa konsep pengolahan yang sehat, bersih dan higienis perlu untuk ditularkan ke seluruh pihak-pihak yang membutuhkan wacana ini. Rumah Tempe Indonesia melalui pendampingan IPB menjadi pionir mengembangkan pengolahan tempe dengan standar internasional.
Hasil ini menjadikan RTI mengembangkan program pelatihan bagi para pengrajin tempe,  khusus diwilayah Bogor. Melalui berbagai proses yang ada, kendala memang tidak dapat dipungkiri. Untuk mengubah mindset cara pengolahan tempe dari pengolahan lama menjadi yang baru, yang lebih higienis merupakan pekerjaan rumah tersendiri bagi RTI. Kendala ini menjadi sebuah tantangan bagi RTI untuk mengembangkan program ini lebih luas lagi. Tidak hanya untuk kalangan dilingkup Bogor saja, tetapi juga sudah mulai mendapatkan animo dibeberapa wilayah diantaranya Tangerang dan Jawa Tengah. Konsep pengolahan tempe yang diajarkan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang sudah berjalan selama ini. Perbedaan yang paling “significant” terlihat dari lahan atau tempat yang lebih bersih dan peralatan dengan menggunakan alat-alat stainless.  Melalui program pelatihan ini diharapkan mendapatkan respons yang positif dari berbagai elemen serta pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengembangkan tempe menjadi makanan yang bergizi melalui proses pengolahan yang higienis.
Griya Tempe di Purbalingga memulai untuk mengkemas lahan pengolahannya sesuai dengan standar yang ada di RTI. Mengedepankan manajemen keluarga, diharapkan GTP mampu memproduksi tempe dengan standar higienis. GTP berorientasi pada dua hal, pertama memasarkan prodak tempe dan yang kedua berbagi ilmu bagaimana cara pengolahan tempe yang higienis yang sebenarnya dapat dilakukan oleh siapapun juga. Sasaran dari orientasi ini bisa dilakukan pada sekolah-sekolah kejuruan, lembaga-lembaga nonformal seperti kelompok ibu-ibu PKK dan sejenisnya, rumah sakit dan hotel yang memiliki restaurant.
Griya Tempe hadir di Purbalingga, Purwokerta adalah untuk memberikan alternatif terhadap prodak tempe dengan harga premium. Kalangan yang akan disasarpun tidak sama dengan para pengrajin yang sudah ada. Market yang dituju adalah para vegetarian dan berbagai kalangan tertentu dalam skala menengah ke atas.
Sistem pengolahan melalui sistem yang terstandarisasi RTI, dengan menggunakan alat-alat yang sebagian besar stainless. Tempat produksi yang sehat, pemprosesan dalam kendali SDM yang terproteksi dengan seragam yang bersih setidaknya memberikan “garanty” terhadap hasil yang dicapai’ untuk kepuasan customer.
Dengan mulai beridinya GTP dalam waktu dekat ini, mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi kehadiran  para pengrajin-pengrajin yang dapat mengubah image tempe, sebagai makanan asli Indonesia yang sehat, berizi dan higienis.

By Indri seperti yang tertulis di kompasina : http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/03/05/tempe-purbalingga-540231.html

Wednesday, 6 March 2013

Anak TK Sekarang Suka Tempe

Tempe bagi sebahagian besar anak-anak bukan merupakan makanan yang menarik, kalah bila di bandingkan dengan fried chicken, burger, dll. Apalagi tempe banyak dikaitkan orang dibuat dengan cara yang tidak higienis, jorok, ditambah bahan pewarna dll. Oleh karena itu Rumah Tempe Indonesia mencoba menghapus anggapan miring tentang cara produksi tempe yang tidak higienis tersebut. Beberapa waktu lalu murid-murid salah satu TK di wilayah kota bogor diajak untuk mengenal tempe lebih dekat, mereka di perlihatkan cara produksi yang benar dan dijelaskan manfaat tempe dengan bahasa yang mereka pahami. Ternyata sebahagian besar murid-murid tersebut menyatakan bahwa mereka suka dengan tempe! apalagi yang di goreng tepung, seperti ayam goreng kesukaan mereka. Dari kunjungan tersebut dapat diambil satu kesimpulan bahwa tempe bisa menjadi makanan favorit bagi anak-anak jika diolah dengan cara yang kreatif dan menyesuaikan dengan selera mereka.

Sunday, 3 March 2013

Produksi Higienis Menjadikan Produk Tahu Tempe Lebih Awet

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh pengrajin tempe dan tahu adalah " bagaimana agar tempe atau tahu bisa lebih awet atau tahan lama ?", Penyebab cepat busuknya produk tempe tahu secara garis besar hanya disebabkan oleh satu hal  yaitu cara produksi yang tidak higienis sehingga produk yang dihasilkan terkontaminasi oleh mikroorganisme yang tidak diinginkan. Terkadang pengrajin hanya mencari jalan pintas dengan menambahkan formalin sebagai bahan pengawet ilegal. Pengalaman yang diperoleh di Rumah Tempe Indonesia yaitu dengan menerapkan proses produksi yang higienis dapat memperpanjang umur simpan tempe yang dihasilkan. Pada saat ini tempe produksi RTI mampu bertahan 4-5 hari di suhu ruangan dan bisa 1 minggu di dalam lemari pendingin. Sedangkan untuk produk tahu selain menerapkan produksi higienis juga dapat melakukan proses perebusan sebelum melakukan pengemasan.

Pelatihan Produksi Tempe Higienis Angkatan 1

Pelatihan Produksi Tempe Higienis Angkatan 1 yang dilaksanakan oleh Rumah Tempe Indonesia berjalan dengan sangat baik. Enam peserta yang  mengikuti pelatihan tampak antusias mengikuti materi-materi yang disampaikan oleh fasilitator. Peserta tersebut berasal dari Bogor, Tanggerang dan Purwokerto. Materi yang disampaikan meliputi pemilihan bahan baku, penataan layout, pengenalan Good Manufacturing Practices (GMP), teknik produksi tempe, penanganan limbah serta analisa ekonomi. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan produksi tempe yang higienis di Rumah Tempe Indonesia, para peserta mampu menjadi salah satu produsen tempe yang mengedepankan cara produksi yang higienis, sehingga misi yang diemban oleh Rumah Tempe Indonesia sebagai salah satu pendorong perbaikan produksi tempe di Indonesia dapat tercapai dengan baik.
Berikut nama-nama peserta pelatihan produksi tempe higienis angkatan 1
1. Djoko Tjahjo S
2. Iwan Sukanta
3. Sukma Wijaya
4. Heru Winata Sukarta
5. Jumanta
6. Indri Jatmoko S.Si, MM

Salam sukses untuk para peserta pelatihan produksi tempe higienis angkatan 1!

Untuk pendaftaran peserta pelatihan hubungi :

Rumah Tempe Indonesia
Jl.Raya Cilendek No 27, Bogor
Cp : M.Ridha 0812 8074 2701