Wednesday, 27 February 2013

Akankah harga kedelai stabil?

Harga kedelai di Indonesia tak ubahnya seperti harga saham, dalam sehari bisa berubah beberapa kali! Hal ini tentu membuat pusing pengrajin tempe tahu karena harga jual tidak mungkin berubah mengikuti perubahan harga kedelai. Namun sedikit angin segar berhembus di awal tahun ini, Bulog akan difungsikan sebagai stabilisator harga kedelai. Berikut cuplikan berita dari poskotanews.com tanggal 28 Feb 2013 :


JAKARTA (Pos Kota)-Untuk mencegah kembali bergejolaknya harga kedelai seperti yang terjadi beberapa waktu lalu  Badan Urusan Logistik (Bulog)  resmi diberi wewenang untuk melakukan impor. Dengan adanya langkah ini diharapkan  harga kedelai akan senantiasa stabil.
“Untuk tahap awal rencananya kami akan mengimpor sekitar 1,7 juta ton kedelai,” kata Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso.
Menurut dia, saat ini kebutuhan kedelai Indonesia sekitar 2,5 juta ton. Kebutuhan tersebut tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri karena  produksi nasional hanya sekitar 800.000 ton.
Bulog sendiri diberikan kewenangan melakukan impor agar fungsi stabilisator yang diemban dapat dilakukan. Sebab selama ini fungsi tersebut baru dilakukan hanya untuk menstabilkan harga beras.
Untuk pembiayaan impornya tidak menggunakan APBN.  Bulog akan melakukan pendekatan atau skema pinjaman perbankan. Karena itu Bulog akan mengkaji bank yang dapat memberikan bunga rendah dan pelayanan prima, sehingga mendatangkan keuntungan yang cukup.
Kementerian Perdagangan sendiri  sudah menetapkan patokan harga atau HPP pada komoditi kedelai berdasarkan kondisi pasar. Patokan harga ini diharapkan menjadi motivasi bagi petani lokal untuk meningkatkan produksi kedelai.
Tiap tahun produksi kedelai terus mengalami penurunan akibat harganya yang kurang menarik. Dengan adanya HPP itu pemerintah ingin  melindungi petani sekaligus  pengrajin tahu tempe kita agar tidak terpukul dengan tidak menentunya harga.

0 comments:

Post a comment