Sunday, 3 February 2013

Tempe Made In Indonesia VS Kedelai Made In USA

Mukin tidak banyak yang menyadari bahwa tempe yang dimakan saat ini memiliki komponen impor yang yang dominan. Ya!, kedelai untuk membuat tempe saat ini diimpor dari Amerika! Hanya Ragi dan Air yang merupakan komponen dalam negeri. Pada saat ini kebutuhan kedelai dalam negeri lebih dari 2 juta ton/tahun dimana 1,8 juta ton di Impor dari luar negeri khususnya Amerika Serikat. Mungkin pertanyaan selanjutnya adalah kemana kedelai lokal? dan jawabannya adalah petani pada saat ini tidak lagi tertarik membudidayakan kedelai karena keuntungannya kecil, Berikut ilustrasinya : harga kedelai lokal saat ini di tingkat petani hanya dihargai Rp 5.500 (karena harga kedelai impor di tingkat konsumen Rp 6.500) dengan tingkat produktifitas 1,5 ton /hektar maka petani yang memiliki lahan 1 Ha (rata-rata petani Indonesia hanya memiliki lahan 3000 m3) akan mendapatkan penghasilan kotor Rp 8.250.000. Coba bandingkan jika petani menanam jagung dengan luas lahan 1 Hektar akan menghasilkan 10 ton jagung dengan harga jual di tingkat petani Rp 2.500/kg maka penghasilan kotor petani adalah Rp 25.000.000. Oleh karena itu kunci peningkatan produksi kedelai dalam negeri tidak lain hanya 2 hal :
1.Meningkatkan produktifitas tanaman kedelai dengan cara memperbaiki kualitas benih, pola tanam, pemupukan dll.
2.Mengatur tata niaga, dimana negara harus mengambil peran untuk menciptakan kondisi yang berimbang anatara hulu dan hilir. Tidak seperti sekarang yang sangat leberalis dan pro Impor!
Hal ini harus dipikirkan secara serius agar tempe yang notabene merupakan makanan Made In Indonesia jika di lihat pada biji kedelainya ada tulisan Made In Amerika!...

1 comments:

Post a comment